Share

Tokoh-Tokoh Indonesia yang Bergelar Insinyur

Penulis: Bayu Airlangga, Ilustrasi: Jurnalis
Senin 17 Januari 2022 18:59 WIB
Tokoh-tokoh Indonesia yang bergelar insinyur banyak berkiprah di pemerintahan, termasuk menjadi pemimpin negara. Berikut beberapa tokoh Indonesia yang memiliki gelar Insinyur.
 
Baca juga:
3 Tokoh Penting Perumusan Proklamasi
-------------------------------------------
3 Tokoh Indonesia yang Lulus Kuliah dengan Gelar Cumlaude
-------------------------------------------
 
Ir. Soekarno (Bung Karno)
Presiden pertama RI, Soekarno, memperoleh gelar insinyurnya di Technise Hoogeschool te Bandoeng, atau yang kini dikenal dengan ITB (Institut Teknologi Bandung), pada 1926.
 
Di sana, Soekarno menempuh pendidikannya dalam bidang teknik sipil. Soekarno sendiri yang mengubah nama instansi pendidikan ini menjadi ITB di tahun 1959.
 
Ir. Joko Widodo
 
Joko Widodo, Presiden Indonesia yang kini menjabat juga memiliki gelar insinyur. Melansir laman resmi Alumni Universitas Gadjah Mada, Jokowi menamatkan pendidikannya di UGM, tepatnya pada Fakultas Kehutanan pada 1985. Jokowi kemudian memutuskan untuk menjadi pengusaha mebel atau furniture, yang membawanya pada keberhasilan.
 
Selain sukses menjadi pengusaha, ia juga gemilang dalam dunia politik. Jokowi pernah menjadi Wali Kota Solo periode 2005 – 2012, Gubernur DKI Jakarta pada 2012 – 2014 dan Presiden Indonesia selama 2 periode, terhitung sejak 2014 hingga 2024 nanti.
 
Ir. Djuanda Kartawidjaja
 
Tokoh Indonesia lain yang juga mendapat gelar insinyur adalah Djuanda Kartawidjaja. Sama seperti Soekarno, Djuanda juga mendapat gelar tersebut dari ITB di tahun 1933. Ia dipercaya sebagai Menteri Perhubungan RI selama 2 periode, yakni 2 Oktober 1946 sampai 4 Agustus 1949 dan 6 September 1950 – 30 Juli 1953.
Djuanda menjadi Perdana Menteri Indonesia yang dikukuhkan pada 9 April 1957, menggantikan Ali Sastroamidjojo. Ia terkenal dengan Deklarasi Djuanda-nya yang menegaskan wilayah kemaritiman Indonesia.
 
Prof. Ir. R.M. Sedyatmo
 
Sedyatmo adalah Insinyur jebolan ITB yang lulus pada 1934. Sebenarnya, Sedyatmo tidak bisa masuk ke ITB (kala itu masih bernama THS) lantaran nilainya tak mencukupi. Namun, seorang gurunya semasa sekolah menghadap pimpinan THS dan menjamin bahwa Sedyatmo sebenarnya anak yang cerdas. Atas dasar itulah, ia berhasil melenggang ke THS.
 
Sedyatmo, merupakan pencetus ide fondasi cakar ayam yang hingga kini masih digunakan, bahkan mendunia. Tokoh cerdas ini mencuatkan ide tersebut pada tahun 1962 dan langsung mendapat pengakuan nasional serta internasional.