Share

3 Menteri PAling Lama Menjabat di Pemerintahan Soekarno

Penulis: Jurnalis, Ilustrasi: Jurnalis
Kamis 16 Juni 2022 17:00 WIB
PRESIDEN Soekarno memimpin Indonesia sejak 1945-1966. Presiden pertama Indonesia ini dibantu sejumlah menteri dalam menjalankan tugasnya. Terdapat beberapa menteri dengan masa jabatan terlama di era Soekarno.
Berikut daftarnya:
 
 Baca Juga: 2 Program Beasiswa Era Presiden Soekarno
 
1. Soebandrio
Soebandrio lahir di Kepanjen, Surabaya, 15 September 1914. Ia menempuh pendidikannya di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (GHS). Diketahui, Soebandrio pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama 9 tahun, sejak 1957-1966. Selain itu, ia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Dwikora I pada 1966.
Pada 1966, ia dijatuhi oleh hukuman mati oleh Mahkamah Luar Biasa atas tuduhan keterlibatan G30S/PKI. Hukuman mati ini pun diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup. Pada 1995, Soebandrio dibebaskan atas alasan kesehatan. Pada 2004, Soebandrio meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut.
 
 Baca Juga: 3 Tokoh Indonesia Mengguncang Dunia Lewat Pidato
 
2. Johannes Leimena
Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Ia tercatat sebagai salah satu menteri yang menjabat paling lama selama era Soekarno, dengan total masa jabatan 20 tahun. Leimena menjabat dalam kabinet yang berbeda sejak masa Kabinet Sjahrir pada 1946 hingga Kabinet Dwikora pada 1966, sebagai Menteri Kesehatan hingga Wakil Perdana Menteri.
Leimena menyelesaikan pendidikan kedokterannya di STOVIA pada 1930. Ia mulai bekerja sebagai dokter pemerintahan di CBZ Batavia (saat ini RS Cipto Mangunkusumo) sejak 1930. Kemudian ia dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung dari 1931-1941. Saat orde baru berkuasa, ia mengundurkan diri sebagai menteri. Namun Leimena masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai Dewan Pertimbangan Agung.
 
Baca Juga: 4 Tokoh Utama Lahirnya Pancasila
 
3. Djoeanda Kartawidjaja
Djoenda Kartawidjaja lahir di Tasikmalaya, 14 Januari 1911. Ia mengawali pendidikannya di Holland Indlandsch School (HIS) yang merupakan tempat ayahnya mengajar. Setelah itu, ia melanjutkan ke Europesche Lagere School (ELS) dan Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS) sebelum melanjutkan kuliah di ITB.
Ia sempat menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada 2 Oktober 1946-4 Agustus 1949 dan pada 6 September 1950-30 Juli 1953. Ia menempati posisi Menteri Perhubungan selama 7 tahun. Pada 1957, ia terpilih menjadi Perdana Menteri ke-10 Indonesia menggantikan Ali Sastroamidjojo. Djoeanda terkenal dengan Deklarasi Djoeanda. Ia meninggal pada 7 November 1963 karena serangan jantung.
 
Simak selengkapnya di Infografis!